Minggu, 17 Maret 2019

Membayar Sebuah ‘Dendam’

Jogjakarta,
Bukan hanya tentang drama skripsi, banyak yang lebih getir disini, tempat melewati proses pendewasaan, tempat yang terlanjur jadi janji lantang pada orang tua di malam itu, “Pokoknya aku bakal lulus kurang dari 4 tahun, janji!” Bukan hal mudah, memang meskipun kelihatannya tidak sesulit kuliah di ‘negeri’, yang pasti jadi impian setiap anak SMA, tapi hidup bukan apa yang selalu terlihat oleh sepasang bola mata orang lain. 
Bagi sebagian orang memang mudah, tapi manusia memiliki takdirnya masing-masing, Tuhan menentukannya dengan porsi berbeda, pun kepadaku.
Di kota inilah, banyak cerita tertulis di ingatan, dua atau tiga pena mungkin tidak cukup, jemari di papan keyboard juga tidak mampu. Maka, pagi ini, kuceritakan yang paling getir, satu garis yang menghubungkan kesegalanya. 

Disinilah saksi akan satu kepergian besar, kepergian tanpa menemukan jalan pulang ke rumah. Tapi takdir membawa Mama ke jalan menuju tempat lain, pulang tiba-tiba ke pangkuan-Nya. Bumi seakan porak poranda, memang. Bukan berlebihan, tapi bukankah tumpuan hidup kita memang kepada seseorang yang dari rahimnya kita dikeluarkan?

Sore itu, lelah sekali, saat hari yang sibuk telah dan akan kulewati ke depannya, kabar buruk itu datang dari ayahku, aku pulang, kereta melaju ke arah barat, berharap jantung Mama masih berdetak, karena semua masih menyembunyikan kebohongan, sampai tengah petang kutohok ayahku, jujur itu memang selalu menyakitkan, aku menjerit, diikuti dengan isak tangis tak peduli dimanapun aku berada. Saat fajar datang sesampainya di kediaman nenekku, aku menyambut suatu kepergian yang takkan menemui pulang, Mama dibalut kain kafan dengan aroma kapur barus yang semerbak memenuhi seisi Mushola, bagaimana bisa seseorang yg kepadanyalah seluruh kesedihan ditumpahkan, di hari itu, justru dia yang jadi titik pusat kesedihanku, saat aku dan kedua adikku masih membutuhkan kasih sayang. Benci? Ya, jelas. Tapi hidup tak boleh berhenti sampai hari itu..

Aku mengangkatkan kaki kembali ke Jogja dengan kosong. Tapi aku tidak mungkin memperlihatkan keterpurukan, bukan? Saat aku mulai gila, kusadarkan hatiku bahwa kematian hanyalah soal waktu, akupun akan. Kuhabiskan segala kegiatan di kampus, di tempat KKN, dimanapun, kadang sedikit menyayat hati pabila melihat teman-teman berbicara di gagang handphone dengan ibunya, “Aah sudah lah!”, tampar sisi diriku yang lain. Kegiatan demi kegiatan terlewati, semua terasa berat termasuk skripsi kujalani dengan dendam. Menangis, makanan sehari-hari, beberapa orang jadi penampung air mataku, tapi tetap saja, tidak ada Mama, pahit, getir, dingin, tandus! Entah kenapa skripsi ini pun penuh dengan drama, benar kata temanku, Thesa, skripsiku lebih dibumbui dengan drama dibandingkan yang lain, disitulah aku merasa lagi bahwa aku kehilangan doa ibuku. Dendam, tapi dendam tidak harus selamanya buruk.

Kemudian deadline datang mendekat, motivasi demi motivasi datang dari banyak mulut, hingga akhirnya diharuskan menyerah, merelakan, baik akan kucoba, pikirku, tapi mengingat janji yang terlanjur diucapkan membuatku berpikir tidak semudah itu mengikhlaskan, memang lidah kadang lebih tajam dari mata pisau, maka aku bangun lagi, kukerjakan dengan maksimal, kemudian harapan baru mulai terlihat, line tidak jadi dead di waktu dekat. Hingga akhirnya tiba waktu ujian, setelah kukerjakan maksimal, maka kuperlihatkan pula dengan maksimal, aku benar-benar ingin membalaskan dendam. Ya Tuhan, bolehkah ada sedikit rasa sombong untuk mengobati lukaku selama ini? Akhirnya, tidak ada duapuluh menit aku berdiri di depan tiga dosen penguji, sementara teman-teman yang lain menghabiskan waktu hampir satu jam, "Hahaha, ayolaaah Yasmin! Sombong kamu belum dapat apa-apa!."
Tapi salah satu penulis sekaligus pemilik instagram 'NKCTHI' bilang, "Kerikil dilemparpun akan jadi gelombang." Entahlah, kalimat itu tidak bermaksud untuk menjadikan seseorang jadi sombong, tapi terus terang, selalu ku Aamiinkan tiap kali mengingat kalimat itu.

Baiklah, maaf.
Ma, Pa, satu janjiku telah diselesaikan, ‘dendamku’ telah aku bayar, yang masih aku sesalkan, adalah Mama yang tidak bisa menyaksikan aku menepati janjiku yang lantang, pada malam itu, di empat tahun yang lalu. Tapi penyesalan tidak akan berbuah apa-apa, semoga Mama selalu berbahagia di sisi-Nya. Aamiin..


Oya, kuberi tahu hal yang sedikit menyernyitkan dahi, skripsiku berkaitan dengan kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual, kupilih judul itu dari semester-semester lalu di mata kuliah Metodologi Penelitian, mata kuliah dimana awal dari skripsi dimulai, aku jadi lebih banyak melahap buku tentang itu, entah mengapa dulu aku memilih kedua variabel tersebut, hingga pada akhirnya siapa yang tahu, mulai dari duapuluh Juli duaribudelapanbelas, sejak kepergian Mama yang tanpa pulang ituemosional dan spiritualku sendiri yang dengan nyata harus benar-benar aku asah, Tuhan memang benar-benar sering membercandai umatnya.


Heeem, yang paling penting, ‘dendamku’ telah aku bayar.



Kamis, 27 September 2018

Diam Temani Aku, Sruput Lagi Kopimu, Sesap Lagi Rokokmu.

Aku tidak tahu mengapa aku berminat kembali lagi kesini, blog usang tak bermakna yang sudah lama kutinggalkan. Ini tentang segala kepulangan, kepulangan Mama yang secara tiba-tiba ke sisi-Nya membuatku enggan untuk pulang ke rumah, meski harus, seperti sekarang, duapuluhtujuh September,  pertama kalinya, eh gak ding, kedua kalinya setelah pulang dihari itu karena kematianny, aku harus pulang ke rumah tanpa hangatnya sambutan Mama di pintu keluar stasiun kereta api, aku gelisah tak menentu semalaman, tak ada sedetikpun memejamkan mata ‘tuk tidur, pikiran melayang entah kemana, memikirkan apa yang harus kulakukan ketika malam nanti menginjakan kaki di rumah, tak terbayang malam itu akan jadi malam yang sangat panjang.
Mama meninggal karena lakalantas di hari ini, Jumat, beeberapa minggu yang lalu, saat aku dan adik-adikku sangat masih membutuhkan perannya, bahkan Ayahku, kedekatan mereka yang tak biasa direnggut begitu saja sungguh adalah petaka baginya, bagaimana tidak, keromantisan sepasang suami-istri yang biasa-biasa saja berubah menjadi luar biasa hanya untuk beberapa minggu, lalu Tuhan mengambil Mama secara tiba-tiba, ada hikmah dibalik semua ini, begitu kata orang, tapi aku takabur, aku sama sekali belum menemukan hikmah sampai saat ini.
Tidak ada sekalipun aku larut mengingat Mama tanpa menangis, aku merasa sangat malang di dunia ini, jika tidak ingat bahwa bukan hanya aku yang merasakan hal seperti ini, mungkin aku sudah gila.
Sudah beberapa orang yang harus secara tiba-tiba mendengarkan tangisanku baik secara langsung maupun dibalik batang handphone-nya, bukan, bukan meminta ‘tuk dikasihani, hanya saja, mungkin sudah banyak terlalu egois menikmti tangisan sendirian, tanpa didengar siapa-siapa, tanpa mendengarkan siapa-siapa, hingga akhirnya aku merasa butuh orang lain yang mendengarkan raungan tangisku, seperti biasanya, aku menangis tiba-tiba secara acak menelpon orang lain, entah teman, atau bahkan teman lama yang sudah jarang berkomunikasi, setelah itu mereka akan mengoceh sampai aku merasa cukup tenang, lalu kututup telponku.
Kepulangan Mama dihari itu adalah satu-satunya hal yang membuat aku merasa dunia seakan runtuh hingga kepingannya menusuk jantung dan mematahkan seluruh tulang rusuk, aku seperti hilang tumpuan, bagaimana tidak, seseorang yang menampung segala sedihku Tuhan ambil begitu saja secara tiba-tiba melalui takdirnya di jalan raya hingga tumpah darahnya, sementara aku merasa menjadi anak durhaka karena disaat-saat terakhir embusan napasnya aku tidak ada disampingnya, kadang sangat marah kepada mereka mengingat aku yang berada jauh beratus-ratus kilometer, dikabari saat beberapa menit sebelum ajalnya, hingga aku tidak menemani saat-saat sakitnya Mama ditusuk tujuh pedang Izrail, “Hey! Aku ini darah dagingnya lho!”. Kini, Ia yang menjadi pusat utama kesedihanku. Katanya kepergian Ia ke sisi-Nya adalah kematian syahid, kadang aku bersyukur karena hal itu mengobati hati dan pikiranku ‘tuk sementara, kadang juga kupikir “It’s not fair! Enak ya Mama, sementara kami disini gak ada yang ngurusin, nangis-nangis aja terus yang ada..” Itulah kalimat busukku, Udaaah... ikhlasiiiin, kata mereka. Hey! Susah loh ikhlas tuh. Lalu, “Hey! Kamu mau menentang takdir Tuhan, Yasmin?” Sudah lah diam saja, cukup diam, temani aku, menangis.

Senin, 29 Mei 2017

Selamat tidur, bayi berbulu!

Guys, sebenernya ini postingan lamaku di Tumblr, tapi berhubung Tumblr aku lebih sedikit peminatnya (Waiiitttt Tumblr dibilang sedikit, lalu blog ini cuman 29 pengikut udah ngerasa banyak????) Sedih bet dah. Seenggaknya lah, (menurut temen2 siiiih soalnya ada beberapa temen yg bahas "Alah, blog kamu tulisannya cuman atu" Yampunnn mereka aktif di blog dibanding tumblr yg menurut aku lebih seru sih meskipun kita kagak nulis apa2, yaudss kali2 mampir tumblr aku, gak banyak sih tulisannya tapi ya mudah2an ada yg penting, check it out aja lah -> https://www.tumblr.com/blog/barukemarinsore OK! Balik ke topik, gapapa dah aku isi blog aku dengan tulisan lama dari tumblr, gak tau lagi mau nulis apa, ada sih tapi masi malez, sebenernya ini lebih ke curhat yang mungkin bisa mengingatkan para animal lovers juga ya.

Pernah gak sih kalian punya baby berbulu lebat pengertian, pendengar yang baik, yang udah bener-bener kalian cintai dan gak rela dia pergi. Jadi, aku punya kucing, kucing pertama yang aku pelihara, inget banget dulu dia kucing misteri, sering banget aku liat dia sekelabat, dan pasti pandanganku kecolongan (yes), kayak liat hantu ekor kucing, seriusss! Misalnya nih, aku lagi nyapu di teras rumah, tetiba ada benda mirip2 ekor kucing lewat, dan pas aku malingin pandangan dari sapu (eeeaaaa) tu ekor kucing udah kagak ada, karena aku penasaran kan, si ekor kucing tu lebat banget bulunya, berarti bukan kucing liar biasanya, "Ok, berarti aku harus siap siaga biar ntu kucing kena pandangan aku" dalem ati dulu, akhirnya setelah beberapa hari aku siap siaga, tiba waktunya doi kena!!!! Ternyata kucingnya emang lucu, buntutnya lebat banget, tapi kerempeng dah, dan doi juga nakal suka maling makanan di meja makan, akhirnya kami sekeluarga tau ternyata makanan yg ilang tu doi yg ngambil:"), apapun doi makan (Kecuali temen) Tapi meskipun dia maling makanan, dia sulit banget disentuh, sulit banget diakrabin, disamperin malah kabur. Tiap dia naik ke meja makan, orang rumah selalu cerewet hahaha sampai akhirnya aku mohon ke orang rumah untuk ngebiarin dia maling makanan, aku pengen dia kepancing dulu (titik) Semakin lama, dia disamperin, diliatin makannya, disentuh, digendong, dan disayang (yeeey aku berhasil!) Akhirnya dia semakin nurut dan deket sama aku, bak naklukin Naga Indosiar dah. Setelah dia deket ama keluargaku, kehidupannya makin happy dilihat dari pertumbuhan bodynya yg pesat, dia makin gendut (pokonya, kalau aku sayang sama sesuatu, pasti aku bikin gendut, makanya aku gendut, karena aku totaly sayang diri sendiri) *yuck*, tapi aku gak tau sih kenapa pacar aku kurus terus meskipun aku sayang ama pacarku (-_-) pokoknya dia tiap hari bersih (bukan pacarku ya, ini topik udah balik ke kucing), dan pastinya gak pernah maling lagi karena makanannya selalu siap sedia(very happy). Akhirnya aku harus berangkat kuliah ke jogja dan harus ninggalin dia, sedih banget, gak ada pendengar sebaik dan selembut dia disini. Tiap mama nelpon, aku gak lupa nanya kabar dia, dia selalu sehat kata mama, tapi suka sering mau nangkep tikus oh no! Sampai akhirnya kemarin tanggal 22 Februari mama nelpon dengan keadaan yang sangat berbeda, dia udah ninggalin kita, dia meninggal!😢😢😢 Betapa kagetnya aku bukan main, nyakitin banget. Udah berkali2 dia mau makan tikus kecegah melulu meskipun tikus sehat, "Maaaffff kita gak mau kamu makan tikus, kita cuman mau kamu sehat dgn makanan2 kamu", kali ini emang udah takdir, kena yah tikusnya yang. Sekalinya dapet, tikusnya yg udah diracun tikus. Rest in peace, Milo. We ❤ you big baby.

Intinya gini lho, jangan pernah pake racun tikus dirumah kalau kalian melihara kucing, soalnya takut kecolongan kucing kita makan tikus yg udah kita kasih racun tikus, setidaknya, kucing kita masih tetep hidup meskipun makan tikus, selain itu, awasi kucing kita, meskipun tikusnya gak dikasi racun, tapi please, kasih makan kucing kita Cat Foodnya, yg udah jelas kesehatannya.
Entahlah, sampai sekarang, kalau kangen, kadang aku gak bisa nerima kepergian Milo, dan masih kesel aja ama tetangga yang tikus beracunnya dimakan Milo. Yaaa gitu sih pokoknya, sedih ya.

Rabu, 28 Oktober 2015

Sayang, 398

Sekarang pukul 0.09Bingung juga, aku masih berkutik asik dengan benda mati ini, aneh, mati namun seolah-olah mau menjadi pendengar dan teman yang baik. Aku lapar, namun tak ada sesuatu yang bisa kumakan disini. Beruntunglah bila pada akhirnya aku merasa mengantuk, tapi sialnya, perasaan itu tak kunjung datang meniup halus kedua mataku.Ini adalah tulisan pertamaku.Aku merenung, memandang langit-langit, sendirian di kotak kecil berukuran 4x5m ini. sunyi semakin menyelusup seolah diam-diam menertawakanku. disini tak ada suara. ada. jam dindingku yang berdetak menambah sunyi malam milikku.kini aku berada jauh dari orang-orang yang bukan hanya menghadirkan kenyamanan, tapi juga ketenteraman yang amat erat memelukku, tapi sekarang sirna.

Aku mau curhat :Tanggal 26 Agustus,Sebenarnya, sebagian besar tulisan ini tentang dia. Ya, dia. Dia yang sore itu datang, seperti biasa sorot matanya ramah menyambut aku membukakan pintu, aku terima sorot matanya dengan senyum yang tersungging, artinya, aku sangat bahagia. tak banyak bicara, kami pamit pada ayahku untuk pergi dengannya, akhirnya kami pergi diantara gumulan awan merah muda yang memberi kesan romantis, seolah-olah sang pencipta menghadiahkan sore itu untuk kami berdua, tak lama, motor Honda CB miliknya melesat ke arah Selatan jalan dari rumah kami, bersama aku yang berada tepat di belakang punggungnya. hangatnya mentari sore itu terasa segar menghujani wajah kami, dan jingganya membuat ranum kedua belah pipinya, menambah kecerahan di raut mukanya, aku tau, karena aku mengintip secara keras lewat kaca spion Fish-Eye milik Honda CBnya, aku sengaja banyak membuat topik pembicaraan agar dapat selalu melihat wajahnya, dia tampan, senyumnya bagus, kalau dia senyum, giginya terlihat sangat bersih, memberi kesan menawan di raut wajahnya.  Tapi bukan hanya itu yang kulihat darinya, ada banyak hal yang tak bisa kalian lihat darinya sebagaimana aku melihatnya. Hanya aku yang bisa melihatnya!. Kami hanyut dalam rindu.Namun sayang, tak lama kami mengitari kota kecil kami, karena memang hari sudah mulai gelap. Kami harus pulang, kerumahku. Dirumahku, kami banyak berbincang seusai sembahyang Magrib. Dan setelah aku sadar, waktu semakin terasa sempit mencekik kami, kebahagiaan ini harus terenggut oleh sang waktu, akhirnya tiba waktu yang selama ini kutunggu, sudah datang, aku malah ingin memutar waktu ke jauh hari dan diam disana bersama dia, dan mereka yang kusayangi.Sebenarnya aku sudah berkemas dan harus segera pergi. Tanpa dia. 398km memang bukan jarak yang panjang, tapi jarak tetaplah jarak, ratusan ribu detik harus aku lewati untuk bertemu dengannya.Suasana tiba-tiba mencekam saat kedua orangtuaku memberi kode padaku dan dia, bahwa kami sekeluarga harus segera pergi.Setelah selesai membereskan barang yg telah dikemas, kami sekeluarga pergi, matanya yang ramah seketika tegas memandang kepergian kami, kulihat dia dari kaca jendela, dia berdiri kaku dibelakang minibus hitam yang kami tumpangi, aku memandangnya lemah, tak terasa sungai di pelupuk mataku mengalir halus. Aku ditemani ibuku duduk di jok kedua mini bus hitam, jok depan diisi oleh ayahku dan sopir, jok paling belakang, ada banyak kotak besar hingga kecil yang isinya semua barang bawaanku untuk jangka waktu yang cukup panjang. Aku ingin memulai menulis tulisan ini sejak aku pergi, namun koneksi internet tak mendukung meski berkali-kali terus ku re-load. Saat aku membuka laptopku, masih di kota kelahiranku, namun tak lama dari itu, heran, mini bus kami sudah berada jauh puluhan kilometer ke arah Timur, dan sedari tadi, lagu yang terngiang di telingaku adalah lagu You’re Guardian Angel milik The Red Jumpsuit Aparratus, tapi kali ini benar-benar berbeda, sebab dilantunkan oleh my soulmate in this universe, dia meng-cover lagu ini. Opininya, lagu ini diperdengarkan untuk membuat para wanita tersipu bahagia karena pasangannya menyanyikan sebuah lagu romantis yang membuat mereka merasa teristimewa, tapi aku malah berkali-kali menitikkan air mata, dan kalian tahu, ini bukan air mata bahagia. Oh my god i feel so silly!Pertanyaanku, apakah semua insan selalu mengalami perpindahan? Entah perpindahan tempat ataupun hati. Kupikir, waktu memang jahat, tak pernah pandang bulu. Meski aku yakin, bukan hanya aku yang mengalami hal ini, tapi saat ini aku merasa sedang menjadi manusia yang paling malang di muka bumi, sebab inilah kali pertama aku akan berada jauh dari segala hal yang selalu menghadirkan kenyamanan, rumah, keluarga dan kerabat dekat, daaaaaan... dia. Kali pertama aku menjauh dari segala lapisan sosialku sejauh ±400 KM, tanpa mereka yang biasa kuandalkan atas beberapa bahkan segala sesuatu, aku lalu harus beradaptasi lagi dengan hal-hal baru yang belum ku ketahui sama sekali. Entahlah, menuju detik-detik terakhir, air mata semakin menghujani pipiku, bak membuat aliran sungai  yang deras, tak bisa lagi terbendung. Semua emosiku benar-benar buncah, karena saat ini aku lagi samaan kayak Kang Fiersa, aku kesal dengan jarak. Selamat menabung rindu, Sayang. Dan tunggulah aku disana, memecahkan celengan rindu.(Beri aku sedikit waktu sebelum menyelesaikan tulisan ini).

(Sudah..)Beberapa menit berlalu, isak tangis sedikit lebih pelan dan berirama, untuk mengobati hati, ambil Betadine, yuk, eh salah, pindah lagu, yuk, ke Dekat Dihatinya milik Ran aja, Sayang..



Sekian curhatanku pada saat perjalananku kemarin, dan sekarang aku ngantuk, ingin tidur, karena besok pagi aku harus mengikuti kegiatan Ospek di kampusku.

Membayar Sebuah ‘Dendam’

Jogjakarta, Bukan hanya tentang drama skripsi, banyak yang lebih getir disini, tempat melewati proses pendewasaan, tempat yang terlanj...