Jogjakarta,
Bukan hanya tentang drama skripsi, banyak yang lebih getir disini, tempat melewati proses pendewasaan, tempat yang terlanjur jadi janji lantang pada orang tua di malam itu, “Pokoknya aku bakal lulus kurang dari 4 tahun, janji!” Bukan hal mudah, memang meskipun kelihatannya tidak sesulit kuliah di ‘negeri’, yang pasti jadi impian setiap anak SMA, tapi hidup bukan apa yang selalu terlihat oleh sepasang bola mata orang lain.
Bagi sebagian orang memang mudah, tapi manusia memiliki takdirnya masing-masing, Tuhan menentukannya dengan porsi berbeda, pun kepadaku.
Bagi sebagian orang memang mudah, tapi manusia memiliki takdirnya masing-masing, Tuhan menentukannya dengan porsi berbeda, pun kepadaku.
Di kota inilah, banyak cerita tertulis di ingatan, dua atau tiga pena mungkin tidak cukup, jemari di papan keyboard juga tidak mampu. Maka, pagi ini, kuceritakan yang paling getir, satu garis yang menghubungkan kesegalanya.
Disinilah saksi akan satu kepergian besar, kepergian tanpa menemukan jalan pulang ke rumah. Tapi takdir membawa Mama ke jalan menuju tempat lain, pulang tiba-tiba ke pangkuan-Nya. Bumi seakan porak poranda, memang. Bukan berlebihan, tapi bukankah tumpuan hidup kita memang kepada seseorang yang dari rahimnya kita dikeluarkan?
Sore itu, lelah sekali, saat hari yang sibuk telah dan akan kulewati ke depannya, kabar buruk itu datang dari ayahku, aku pulang, kereta melaju ke arah barat, berharap jantung Mama masih berdetak, karena semua masih menyembunyikan kebohongan, sampai tengah petang kutohok ayahku, jujur itu memang selalu menyakitkan, aku menjerit, diikuti dengan isak tangis tak peduli dimanapun aku berada. Saat fajar datang sesampainya di kediaman nenekku, aku menyambut suatu kepergian yang takkan menemui pulang, Mama dibalut kain kafan dengan aroma kapur barus yang semerbak memenuhi seisi Mushola, bagaimana bisa seseorang yg kepadanyalah seluruh kesedihan ditumpahkan, di hari itu, justru dia yang jadi titik pusat kesedihanku, saat aku dan kedua adikku masih membutuhkan kasih sayang. Benci? Ya, jelas. Tapi hidup tak boleh berhenti sampai hari itu..
Aku mengangkatkan kaki kembali ke Jogja dengan kosong. Tapi aku tidak mungkin memperlihatkan keterpurukan, bukan? Saat aku mulai gila, kusadarkan hatiku bahwa kematian hanyalah soal waktu, akupun akan. Kuhabiskan segala kegiatan di kampus, di tempat KKN, dimanapun, kadang sedikit menyayat hati pabila melihat teman-teman berbicara di gagang handphone dengan ibunya, “Aah sudah lah!”, tampar sisi diriku yang lain. Kegiatan demi kegiatan terlewati, semua terasa berat termasuk skripsi kujalani dengan dendam. Menangis, makanan sehari-hari, beberapa orang jadi penampung air mataku, tapi tetap saja, tidak ada Mama, pahit, getir, dingin, tandus! Entah kenapa skripsi ini pun penuh dengan drama, benar kata temanku, Thesa, skripsiku lebih dibumbui dengan drama dibandingkan yang lain, disitulah aku merasa lagi bahwa aku kehilangan doa ibuku. Dendam, tapi dendam tidak harus selamanya buruk.
Kemudian deadline datang mendekat, motivasi demi motivasi datang dari banyak mulut, hingga akhirnya diharuskan menyerah, merelakan, baik akan kucoba, pikirku, tapi mengingat janji yang terlanjur diucapkan membuatku berpikir tidak semudah itu mengikhlaskan, memang lidah kadang lebih tajam dari mata pisau, maka aku bangun lagi, kukerjakan dengan maksimal, kemudian harapan baru mulai terlihat, line tidak jadi dead di waktu dekat. Hingga akhirnya tiba waktu ujian, setelah kukerjakan maksimal, maka kuperlihatkan pula dengan maksimal, aku benar-benar ingin membalaskan dendam. Ya Tuhan, bolehkah ada sedikit rasa sombong untuk mengobati lukaku selama ini? Akhirnya, tidak ada duapuluh menit aku berdiri di depan tiga dosen penguji, sementara teman-teman yang lain menghabiskan waktu hampir satu jam, "Hahaha, ayolaaah Yasmin! Sombong kamu belum dapat apa-apa!."
Tapi salah satu penulis sekaligus pemilik instagram 'NKCTHI' bilang, "Kerikil dilemparpun akan jadi gelombang." Entahlah, kalimat itu tidak bermaksud untuk menjadikan seseorang jadi sombong, tapi terus terang, selalu ku Aamiinkan tiap kali mengingat kalimat itu.
Baiklah, maaf.
Ma, Pa, satu janjiku telah diselesaikan, ‘dendamku’ telah aku bayar, yang masih aku sesalkan, adalah Mama yang tidak bisa menyaksikan aku menepati janjiku yang lantang, pada malam itu, di empat tahun yang lalu. Tapi penyesalan tidak akan berbuah apa-apa, semoga Mama selalu berbahagia di sisi-Nya. Aamiin..
Baiklah, maaf.
Ma, Pa, satu janjiku telah diselesaikan, ‘dendamku’ telah aku bayar, yang masih aku sesalkan, adalah Mama yang tidak bisa menyaksikan aku menepati janjiku yang lantang, pada malam itu, di empat tahun yang lalu. Tapi penyesalan tidak akan berbuah apa-apa, semoga Mama selalu berbahagia di sisi-Nya. Aamiin..
Oya, kuberi tahu hal yang sedikit menyernyitkan dahi, skripsiku berkaitan dengan kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual, kupilih judul itu dari semester-semester lalu di mata kuliah Metodologi Penelitian, mata kuliah dimana awal dari skripsi dimulai, aku jadi lebih banyak melahap buku tentang itu, entah mengapa dulu aku memilih kedua variabel tersebut, hingga pada akhirnya siapa yang tahu, mulai dari duapuluh Juli duaribudelapanbelas, sejak kepergian Mama yang tanpa pulang itu, emosional dan spiritualku sendiri yang dengan nyata harus benar-benar aku asah, Tuhan memang benar-benar sering membercandai umatnya.
Heeem, yang paling penting, ‘dendamku’ telah aku bayar.


