Aku tidak tahu mengapa aku berminat kembali lagi kesini, blog usang tak bermakna yang sudah lama kutinggalkan. Ini tentang segala kepulangan, kepulangan Mama yang secara tiba-tiba ke sisi-Nya membuatku enggan untuk pulang ke rumah, meski harus, seperti sekarang, duapuluhtujuh September, pertama kalinya, eh gak ding, kedua kalinya setelah pulang dihari itu karena kematianny, aku harus pulang ke rumah tanpa hangatnya sambutan Mama di pintu keluar stasiun kereta api, aku gelisah tak menentu semalaman, tak ada sedetikpun memejamkan mata ‘tuk tidur, pikiran melayang entah kemana, memikirkan apa yang harus kulakukan ketika malam nanti menginjakan kaki di rumah, tak terbayang malam itu akan jadi malam yang sangat panjang.
Mama meninggal karena lakalantas di hari ini, Jumat, beeberapa minggu yang lalu, saat aku dan adik-adikku sangat masih membutuhkan perannya, bahkan Ayahku, kedekatan mereka yang tak biasa direnggut begitu saja sungguh adalah petaka baginya, bagaimana tidak, keromantisan sepasang suami-istri yang biasa-biasa saja berubah menjadi luar biasa hanya untuk beberapa minggu, lalu Tuhan mengambil Mama secara tiba-tiba, ada hikmah dibalik semua ini, begitu kata orang, tapi aku takabur, aku sama sekali belum menemukan hikmah sampai saat ini.
Tidak ada sekalipun aku larut mengingat Mama tanpa menangis, aku merasa sangat malang di dunia ini, jika tidak ingat bahwa bukan hanya aku yang merasakan hal seperti ini, mungkin aku sudah gila.
Sudah beberapa orang yang harus secara tiba-tiba mendengarkan tangisanku baik secara langsung maupun dibalik batang handphone-nya, bukan, bukan meminta ‘tuk dikasihani, hanya saja, mungkin sudah banyak terlalu egois menikmti tangisan sendirian, tanpa didengar siapa-siapa, tanpa mendengarkan siapa-siapa, hingga akhirnya aku merasa butuh orang lain yang mendengarkan raungan tangisku, seperti biasanya, aku menangis tiba-tiba secara acak menelpon orang lain, entah teman, atau bahkan teman lama yang sudah jarang berkomunikasi, setelah itu mereka akan mengoceh sampai aku merasa cukup tenang, lalu kututup telponku.
Kepulangan Mama dihari itu adalah satu-satunya hal yang membuat aku merasa dunia seakan runtuh hingga kepingannya menusuk jantung dan mematahkan seluruh tulang rusuk, aku seperti hilang tumpuan, bagaimana tidak, seseorang yang menampung segala sedihku Tuhan ambil begitu saja secara tiba-tiba melalui takdirnya di jalan raya hingga tumpah darahnya, sementara aku merasa menjadi anak durhaka karena disaat-saat terakhir embusan napasnya aku tidak ada disampingnya, kadang sangat marah kepada mereka mengingat aku yang berada jauh beratus-ratus kilometer, dikabari saat beberapa menit sebelum ajalnya, hingga aku tidak menemani saat-saat sakitnya Mama ditusuk tujuh pedang Izrail, “Hey! Aku ini darah dagingnya lho!”. Kini, Ia yang menjadi pusat utama kesedihanku. Katanya kepergian Ia ke sisi-Nya adalah kematian syahid, kadang aku bersyukur karena hal itu mengobati hati dan pikiranku ‘tuk sementara, kadang juga kupikir “It’s not fair! Enak ya Mama, sementara kami disini gak ada yang ngurusin, nangis-nangis aja terus yang ada..” Itulah kalimat busukku, Udaaah... ikhlasiiiin, kata mereka. Hey! Susah loh ikhlas tuh. Lalu, “Hey! Kamu mau menentang takdir Tuhan, Yasmin?” Sudah lah diam saja, cukup diam, temani aku, menangis.