Sekarang pukul 0.09Bingung juga, aku masih berkutik asik dengan benda mati ini, aneh, mati namun seolah-olah mau menjadi pendengar dan teman yang baik. Aku lapar, namun tak ada sesuatu yang bisa kumakan disini. Beruntunglah bila pada akhirnya aku merasa mengantuk, tapi sialnya, perasaan itu tak kunjung datang meniup halus kedua mataku.Ini adalah tulisan pertamaku.Aku merenung, memandang langit-langit, sendirian di kotak kecil berukuran 4x5m ini. sunyi semakin menyelusup seolah diam-diam menertawakanku. disini tak ada suara. ada. jam dindingku yang berdetak menambah sunyi malam milikku.kini aku berada jauh dari orang-orang yang bukan hanya menghadirkan kenyamanan, tapi juga ketenteraman yang amat erat memelukku, tapi sekarang sirna.
Aku mau curhat :Tanggal 26 Agustus,Sebenarnya, sebagian besar tulisan ini tentang dia. Ya, dia. Dia yang sore itu datang, seperti biasa sorot matanya ramah menyambut aku membukakan pintu, aku terima sorot matanya dengan senyum yang tersungging, artinya, aku sangat bahagia. tak banyak bicara, kami pamit pada ayahku untuk pergi dengannya, akhirnya kami pergi diantara gumulan awan merah muda yang memberi kesan romantis, seolah-olah sang pencipta menghadiahkan sore itu untuk kami berdua, tak lama, motor Honda CB miliknya melesat ke arah Selatan jalan dari rumah kami, bersama aku yang berada tepat di belakang punggungnya. hangatnya mentari sore itu terasa segar menghujani wajah kami, dan jingganya membuat ranum kedua belah pipinya, menambah kecerahan di raut mukanya, aku tau, karena aku mengintip secara keras lewat kaca spion Fish-Eye milik Honda CBnya, aku sengaja banyak membuat topik pembicaraan agar dapat selalu melihat wajahnya, dia tampan, senyumnya bagus, kalau dia senyum, giginya terlihat sangat bersih, memberi kesan menawan di raut wajahnya. Tapi bukan hanya itu yang kulihat darinya, ada banyak hal yang tak bisa kalian lihat darinya sebagaimana aku melihatnya. Hanya aku yang bisa melihatnya!. Kami hanyut dalam rindu.Namun sayang, tak lama kami mengitari kota kecil kami, karena memang hari sudah mulai gelap. Kami harus pulang, kerumahku. Dirumahku, kami banyak berbincang seusai sembahyang Magrib. Dan setelah aku sadar, waktu semakin terasa sempit mencekik kami, kebahagiaan ini harus terenggut oleh sang waktu, akhirnya tiba waktu yang selama ini kutunggu, sudah datang, aku malah ingin memutar waktu ke jauh hari dan diam disana bersama dia, dan mereka yang kusayangi.Sebenarnya aku sudah berkemas dan harus segera pergi. Tanpa dia. 398km memang bukan jarak yang panjang, tapi jarak tetaplah jarak, ratusan ribu detik harus aku lewati untuk bertemu dengannya.Suasana tiba-tiba mencekam saat kedua orangtuaku memberi kode padaku dan dia, bahwa kami sekeluarga harus segera pergi.Setelah selesai membereskan barang yg telah dikemas, kami sekeluarga pergi, matanya yang ramah seketika tegas memandang kepergian kami, kulihat dia dari kaca jendela, dia berdiri kaku dibelakang minibus hitam yang kami tumpangi, aku memandangnya lemah, tak terasa sungai di pelupuk mataku mengalir halus. Aku ditemani ibuku duduk di jok kedua mini bus hitam, jok depan diisi oleh ayahku dan sopir, jok paling belakang, ada banyak kotak besar hingga kecil yang isinya semua barang bawaanku untuk jangka waktu yang cukup panjang. Aku ingin memulai menulis tulisan ini sejak aku pergi, namun koneksi internet tak mendukung meski berkali-kali terus ku re-load. Saat aku membuka laptopku, masih di kota kelahiranku, namun tak lama dari itu, heran, mini bus kami sudah berada jauh puluhan kilometer ke arah Timur, dan sedari tadi, lagu yang terngiang di telingaku adalah lagu You’re Guardian Angel milik The Red Jumpsuit Aparratus, tapi kali ini benar-benar berbeda, sebab dilantunkan oleh my soulmate in this universe, dia meng-cover lagu ini. Opininya, lagu ini diperdengarkan untuk membuat para wanita tersipu bahagia karena pasangannya menyanyikan sebuah lagu romantis yang membuat mereka merasa teristimewa, tapi aku malah berkali-kali menitikkan air mata, dan kalian tahu, ini bukan air mata bahagia. Oh my god i feel so silly!Pertanyaanku, apakah semua insan selalu mengalami perpindahan? Entah perpindahan tempat ataupun hati. Kupikir, waktu memang jahat, tak pernah pandang bulu. Meski aku yakin, bukan hanya aku yang mengalami hal ini, tapi saat ini aku merasa sedang menjadi manusia yang paling malang di muka bumi, sebab inilah kali pertama aku akan berada jauh dari segala hal yang selalu menghadirkan kenyamanan, rumah, keluarga dan kerabat dekat, daaaaaan... dia. Kali pertama aku menjauh dari segala lapisan sosialku sejauh ±400 KM, tanpa mereka yang biasa kuandalkan atas beberapa bahkan segala sesuatu, aku lalu harus beradaptasi lagi dengan hal-hal baru yang belum ku ketahui sama sekali. Entahlah, menuju detik-detik terakhir, air mata semakin menghujani pipiku, bak membuat aliran sungai yang deras, tak bisa lagi terbendung. Semua emosiku benar-benar buncah, karena saat ini aku lagi samaan kayak Kang Fiersa, aku kesal dengan jarak. Selamat menabung rindu, Sayang. Dan tunggulah aku disana, memecahkan celengan rindu.(Beri aku sedikit waktu sebelum menyelesaikan tulisan ini).
(Sudah..)Beberapa menit berlalu, isak tangis sedikit lebih pelan dan berirama, untuk mengobati hati, ambil Betadine, yuk, eh salah, pindah lagu, yuk, ke Dekat Dihatinya milik Ran aja, Sayang..
Sekian curhatanku pada saat perjalananku kemarin, dan sekarang aku ngantuk, ingin tidur, karena besok pagi aku harus mengikuti kegiatan Ospek di kampusku.
